Pesona Pantai Ambalat yang Tersembunyi

firel | firman gunajaya | blogvrman | arenainformasi | masukberita | db-bugcheat

Deretan pohon kelapa di sisi kiri dan kanan dengan buah bergantungan, bagaikan pagar hidup menyambut kedatangan para pengunjung ketika memasuki gerbang pantai Ambalat yang terletak di kelurahan Amborawang Laut kecamatan Samboja Kutai Kartanegara (Kukar).

Tak berapa lama setelah itu terlihat tepi laut dengan ombak yang memecah di bibir pantai. Deretan warung yang  menjajakan makanan dan minuman tampak siap melayani pengunjung, terlihat duduk didalamnya beberapa pengunjung sedang menikmati segarnya kelapa muda pantai Ambalat.

Pantai Ambalat yang landai dengan pasir sedikit kecoklatan terbentang mulai dari arah selatan berbatasan dengan pantai Teritip Balikpapan hingga utara di Tanjung Samboja.

“Panjangnya kurang lebih satu setengah kilo meter, sedangkan lebarnya bisa 500 meter jika air surut,” ujar Lurah Amborawang Laut, M Idrus saat ditemui di pantai Ambalat, Minggu (25/8).

Di siang hari, banyak cara bagi pengunjung untuk bisa menikmati landainya pantai Ambalat, yakni dengan bermain bola, bersepeda ria, merasakan sejuknya air dengan berendam sambil bermain di laut, atau sekedar menikmati hembusan angin laut dan desiran ombak yang memecah ditepi pantai di gazebo atau cukup di bawah rindangnya pohon cemara
dan pinus yang terdapat di tepi pantai.

Untuk bermain di laut ada ban yang disewakan penduduk setempat, bahkan jika pengunjung ramai Banana Boat juga tersedia di pantai tersebut. Pesona tersembunyi Ambalat bisa dirasakan pada malam hari. Untuk bermalam fasilitas akomodasi berupa rumah pantai yang mirip cottages, meski jumlahnya tidak banyak yakni depalan unit. Rumah pantai tersebut bangunannya ada yang permanen dan semi permanen dengan harga sewa permalam mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta tergantung ukuran dan fasilitasnya.

Setiap akomodasi tentunya dilengkapi fasilitas standar, yakni dapur, kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan  listrik dan tangki air bersih yang disalurkan kekamar mandi dan dapur, hanya saja televisi dan lemari es tidak tersedia.

Tetapi bukan fasilitas cottages tersebut yang menjadi pesona ambalat, namun hembusan angin yang terkena dedaunan cemara membuat suara khas, dipadukan dengan desiran ombak dan cahaya rembulan membuat air tampak sedikit berkilauan di malam hari jika langit sedang tak berawan. Apalagi sambil menikmati ikan bakar hasil memancing sendiri bersama rekan maupun orang-orang terdekat, lengkap rasanya.

Camping di udara terbuka sebenarnya lebih asik untuk menikmatai susana malam Ambalat. Pada malam hari, kepiting pasir dan kelomang dengan bentuk cangkang yang beragam kerap keluar dan mendatangi orang-orang yang beraktifitas
di pantai. Entah penasaran atau terganggu dengan kehadiran manusia, yang pasti kehadiran kepiting dan kelomang tersebut seakan memberi ucapan selamat datang pada para pengunjung Ambalat.

Ambalat juga dilengkapi dengan wahana pemancingan untuk para pengunjung, salah satunya milik M Idrus dengan luas kurang lebih empat hektar. Sarana pendukung pemancingan itu yakni beberapa unit gazebo terletak dipematang empang dengan teduhan pohon cemara yang cukup rindang. Jelas saja, suasana sejuk alami menanti pengunjung sambil menikmati memancing ditemani sayup-sayup suara deburan ombak pantai yang menghadap selat Makassar tersebut.

Uniknya Ambalat bisa dijalani kendaraan roda empat tanpa harus khawatir amblas, karena pasirnya cukup padat sehingga mobil dengan mudah bisa menyusuri tepi pantai.

Sayangnya Ambalat masih kurang banyak di lirik wisatawan lokal, ini disebabkan karena lokasinya yang cukup tersembunyi, yakni sekitar 7 kilometer dari jalan poros jalan Samboja – Teritip di Balikpapan. Padahal jalan menuju Ambalat cukup bagus yakni berupa semenisasi, namun belum ada  marka atau tanda yang menunjukkan lokasi ke Ambalat.

“Kedepan akan kami buat tanda-tanda di jalan yang bisa menuntun pengunjung untuk ke Ambalat,” terang M Idrus.

Selain itu sebagai tempat rekreasi wisata alam, Ambalat masih dikelola secara sederhana yang saat ini ditangani warga, yang dikoordinir kelurahan setempat.

“Untuk mobil yang masuk ke pantai ini kami pungut 15 ribu rupiah, sebagian untuk perwatan,” demikian ungkap Idrus. (vb/hayru)


You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply