Raja Dayak (Kepala Suku)

firel | firman gunajaya | blogvrman | arenainformasi | masukberita | db-bugcheat

Kali ini saya ingin menulis tentang Pemimpin suku Dayak yang lebih dikenal dengan Raja Dayak. Kalau biasanya kita dengar seorang Raja identik dengan orang yang kaya raya dan mempunyai banyak kuasa, namun tidak demikian dengan Raja Dayak. Dalam buku sejarah pun tidak ada dijelaskan bahwa  orang dayak mempunyai seorang Raja, jangankan orang luar, penduduk kampung sendiri tidak tahu apakah mereka mempunya seorang Raja.

Di sebuah daerah hulu Kalimantan terdapat sebuah kerajaan Hulu Aik di wilayah Pancur Sembore dan Tanjung Porikng, udik sungai Krio (kini masuk Desa Menyumbung, Kec. Sandai, Kab. Ketapang-Kalbar), sekitar tahun 1700-an. Pemimpin pertamanya Pang Ukir Empu Geremeng. Ia digantikan Bihukng Tiung. Sejak Bihukng inilah wilayah Pancur Sembore- Tanjung Porikng dinamakan kerajaan Hulu Aik. Bihukng sebagai raja I. Bihukng digantikan Bansa Pati (II), Ira Bansa (III), Temenggung Jambu (IV), Bebek (ayah Raja Singa Bansa, raja ke-5). Dan Raja Hulu Aik VI adalah Singa Bansa. Karena tidak ada wilyah kekuasaan yang jelas, pusat kerajaan Hulu Aik berpindah-pindah mengikuti siapa rajanya di sepanjang daerah aliran sungai Krio.

Secara material kehidupan keluarga Raja Singa Bansa memang sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan miskin. Istana-nya(rumah-red.) terletak di daerah terpencil nun jauh di pedalaman, di kampung Sengkuang, Desa Menyumbung, Kec. Sandai, Kabupaten Ketapang (Kalbar). Dari Pontianak ke Ketapang, dan dari kota kabupaten Ketapang naik speed boat 6 jam,dilanjutkan speed boat kecil 15 PK sekitar 4 jam mudik menerjang jeram sungai Krio.

Rumahnya 8 X 7 meter3, berlantai dan berdinding papan, beratap kayu sirap. Tangga dari sebatang balok kayu besi yang diberi buku-buku. Tidak ada satu kursipun di ruang tamu. Tetamu duduk di lantai beralaskan tikar pandan. Ini rumah pemberian pemerintah,katanya. Sebagai Raja Hulu Aik ia tidak boleh kerja keras, sehingga tidak mungkin bisa mempunyai rumah. Dulu rakyatnyalah yang membuatkan rumah. Di salah satu ruangan tersimpan pusaka keramat Kerajaan Hulu Aik, yakni Bosi Koling Tungkat Rakyat; berujud sebuah keris dari besi kuning.

Bagi Singa Bansa, predikat Raja Hulu Aik merupakan kewajiban yang teramat berat. Sebenarnya saya sangat berat menerima jabatan ini. Namun karena sudah keturunan, tidak boleh ditolak. Mungkin inilah jalan hidup saya, katanya pasrah.

Agama Katolik yang dianutnya sejak kecilpun terpaksa harus ditinggalkan setelah dinobatkan sebagai Raja Hulu Aik VI. Istrinya, Anastasia Bijan (33 th), juga harus meninggalkan agama Katolik. Ia dan isterinya kembali ke kepercayaan kepada Duwata (Tuhan—Dayak Krio) menurut orang Dayak Krio disana. Sedangkan Edi Kurniawan, anaknya, masih boleh beragama Katolik.

Sewaktu Meruba tahun 1998, di dalam peti terdapat lumpur dan air. Sedangkan Bosi koling tungkat rakyat yang dibalut kain kuning tujuh lilitan itu juga terasa panas. Artinya, situasi dunia penuh ketegangan, keruh dan kotor seperti lumpur, serta akan musim penghujan. Sampai kinipun orang Dayak Krio disana masih sangat percaya dengan pertanda alam dari adat Meruba. Para petani sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi alam.

Selama mencuci keris dengan minyak kelapa, Raja pun tidak boleh melihat, hanya meraba sambil mengeluarkan kotoran di dalam peti. Jika dilihat, maka pelan tapi pasti akan akan buta. Ketika dilantik untuk pertama dan terakhir kalinya Raja Hulu Aik melihat keris itu, matanya pelan tapi pasti akan buta. Karena biasanya hanya melihat dengan sebelah mata, maka ciri khas Raja Hulu Aik adalah buta mata sebelah.

raja dayak

Raja Hulu Aik bukanlah raja yang mempunyai daerah kekuasaan secara definitif.Dulu wilayah kekuasaannya meliputi Laman Sembilan Domong Sepuluh. Wilayah ini sekarang meliputi kabupaten Ketapang, sebagian Kab. Sanggau, dan sebagian kecil orang Dayak di Sarawak (Malaysia). Dulu, merekalah yang menghidupi Raja Hulu Aik. Raja Hulu Aik sebagai pemersatu dan perantara mereka mohon bantuan kepada Tuhan, karena raja memelihara Bosi Koling Tungkat Rakyat.

Setelah penjajahan berakhir, di alam kemerdekaan nasib Raja Hulu Aik malah nyaris tidak ada tempat di negara Indonesia. Dengan berbagaiteknik, model penundukkan dan penjajahan kultural gaya baru yang dibungkus pembangunan, modernisasi selama 53 tahun Indonesia merdeka, pelan tapi pasti kini Raja Hulu Aik hampir-hampir tidak ada lagi. Kemunculan pertama kali Raja Singa Bansa ke publik ketika pelaksanaan adat tolak bala mencegah kerusuhan di Ketapang pertengahan Juli 1998 lalu, sangat membanggakan masyarakat Dayak. Mereka kini tahu mempunyai raja. Bukan raja sebagai penguasa, punya wilayah kekuasaan; tapi raja sebagai simbol pemersatu orang Dayak untuk membangun Republik Indonesia ini.

Raja Hulu Aik dihormati, menjadi pemersatu. Kini tidak lagi. Menurut para ahli tentang Dayak, penjajahan, pembangunan dan modernisasi telah pelan tapi pasti berperan besar menghilangkan eksistensi Raja Hulu Aik. Orang Dayak itu mayoritas dalam jumlah, tapi minoritas dalam peranan,”kata Mill Rockaert(1996). Lebih parah lagi, “masyarakat Dayak itu antara ada dan tiada,”ujar GP. Djaoeng, tokoh Dayak di Pontianak yang juga mantan anggota MPR 1993-1998.

Penulis Edi Petebang

foto: hanya ilustrasi


You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Raja Dayak (Kepala Suku)”

  1. kp says:

    sementara di Dayak Pesaguan (Dayak yang berdiam disepanjang/disekitar sungaia Pesaguan-hulu selatan Kab.Ketapang )semenjak dahulu kala tidak menyebut pemerintahannya sebagai kerajaan.namun menurut pendapat saya, pemerintahannya sebelum jaman Republik,pemerintahannya berbentuk semacam negara Tera Kota yang otonom.seperti diketahui sekitar pada abat xiii, ada seorang pangeran jawa [mungkin pelarian akibat sengketa kekuasaan] berlayar dari Jawa/majapahit,kemudian memasuki perairan ketapang di Kandang Kerbau, untuk kemudian mudik ke hulu menyusuri sungai Pesaguan sampai tiba di sebuah desa tua yakni Serengkah.Disitu sudah ada pemerintahan yang dipimpin seorang Demong [unt tidak menyebut raja),kala itu di Serengkah pemimpinnya disebut Demong Punduhan yang artinya memimpin kampung-kampung disepanjang aliran sungai Pesaguan dan sekitarnya.akan hal nya Demong,disamping sbg kepala Pemerintahan dia juga sebagai pemutus perkara rakyatnya dimana Demong dibantu tetua Adat.Seakan halnya Raja ,para Demong akan digantikan oleh salah satu anaknya untuk kelak menjadi Demong pula.

    • kp says:

      KP, sebagai bahan referensi saja,. sekitar abat XIII, kedatangan pangeran jawa di serengkah [pesaguan hulu],disebut Ocang [cerita lisan msy setempat} mempersunting putri Demong serongkah yg bernama Daro Ponio [menurunkan para Demong kemudian},pernikahan mereka menurunkan Naliudo [pemuda gagah perkasa yg dikisahkan pernah memenangkan sayembara atau pertaruhan yg diadakan kerajaan tanjungpura, yakni meniti tali dari sabut kelapa menyebrangi sungai pawan kota ketapang sambil meniup seruling.} suatu saat Ocang/pangerajan jawa/mojopahit pulang ke tanah jawa, disaat situasi telah memungkinkan.ada juga yg menceritakan bahwa Ocang ini juga bernama Prabu jaya.karena kisah ini hanya lisan,tidak ditemukan bukti tertulis., dan dikisahkan juga sang putra kelak menyusul ayahnya ke pulau jawa dan suatu saat pernah kembali/cuti, orang2 mempercayainya sebagai maha patih Gajah Mada [disini dikenal pula hukum adat patih Gajah mada/ jikapun keliru hal ini juga memastikan bahwa MP.gajah mada terkenal di Nusantara.KP-menyambung comment terdahulu.

Leave a Reply