Melihat Adat Istiadat Kampung Budaya Puak Kedang Lampong

firel | firman gunajaya | blogvrman | arenainformasi | masukberita | db-bugcheat

kampung dayak

Kampung budaya puak Kedang Lampong yang terletak di Dusun Bengkuring dan Bensamar Kota Tenggarong memiliki sejarah di Kota Tenggarong. Puak Kedang Lampong sejak 1730 mendiami wilayah Tenggarong dan merupakan masyarakat tertua yang tinggal di sini. Kota Tenggarong diungkap keberadaannya sejak 1782, sementara puak Kedang Lampong diketahui sudah mendiami Tenggarong sejak 1730 M, yang berarti lebih awal keberadaanya sebelum Tenggarong sendiri berdiri sebagai pusat kerajaan. Puak Kedang Lampong pada masa itu dipimpin oleh 2 tokoh yaitu  Sri Mangkujagat dan Sri Setia.

Pada abad 17 di masa pemerintahan Sultan Adji Muhammad Muslihuddin (Aji Imbut), Sultan bermaksud memindahkan pusat kerajaan dari Jembayan (Pemarangan), yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Loa Kulu.
Dalam penentuan lokasi pusat kerajaan terlebih dahulu meminta petunjuk ahli nujum. Dari perenungan diperoleh petunjuk untuk mencari rantau yang berbau harum dan naga yang memainkan Mustika karena tanah inilah yang cocok untuk dijadikan pusat kerajaan.

Maka berangkatlah Sultan dan pengawal beserta rombongan dan sampai di rantau Perjiwa (Tanjong Geresik). Adji Imbut bertemu  pulau di tengah Sungai Mahakam dan pada saat itu pula Adji melihat ada dua sungai di seberangnya yaitu sungai Tenggarong dan sungai Mangkurawang serta rantau yang ditumbuhi oleh tanaman pandan yang harum.
Sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh ahli nujum melalui tilik sandinya bahwa pulau yang ada di tengah Mahakam melambangkan  Kemala dan dua sungai melambangkan dua ekor naga, maka Sultan mengutus Mangkubumi didampingi oleh Puak Ado Latonjeng untuk menemui kepala suku Kedang Lampong,  yaitu Sri Mangkujagat dan Sri Setia untuk menyampaikan maksud raja dari Pemarangan yang ingin memindahkan pusat kerajaan ke Tepian Pandan.

Setelah mendapat sambutan baik dan izin dari kepala suku Kedang Lampong, utusan Kerajaan kembali menemui  Sultan dan menyampaikan bahwa ketua suku Kedang Lampong  tidak keberatan wilayahnya dijadikan sebagai pusat Kerajaan yang baru. Sejak tahun 1782 Tepian Pandan menjadi tempat pusat kerajaan  dengan sebutan Tangga Arung (Tangga/Titian Raja) sekarang menjadi Tenggarong.

Keberadaan dusun Bengkuring dan Bensamar tidak terlepas dari sejarah masa lalu. Puak Kedang Lampong adalah satu puak/komunitas masyarakat yang memberikan dukungan atas keinginan Sultan membangun istana di rantau Tepian Pandan, karena di Pemarangan dianggap oleh orang Bugis sudah kurang baik lagi untuk dijadikan sebagai pusat kerajaan sebab pernah dirampok orang-orang dari Solok.

Maka atas mufakat para pemuka kerajaan dan petunjuk ahli nujum ( Paranormal ) dipilihlah rantau Tepian Pandan yang pada masa itu menjadi tempat orang-orang Kedang Lampong berladang.
Pada masa pemerintahan Adji Gahiri (1850-1899) penduduk Kedang Lampong diberi wilayah sebagai tempat permukiman di kampung Bengkuring dan kampung Bensamar. Saat ini berada di Kelurahan Loa Ipuh Kota dan Loa Ipuh Darat Kecamatan Tenggarong. Di daerah ini juga masih ada pemakaman tua yang menunjukan bahwa daerah ini dulunya sebagai permukiman lama.

Masyarakat Kedang Lampong  yang ada di Bengkuring dan Bensamar juga masih memegang teguh pada pantangan (betuhing), yang apabila dilanggar akan berakibat tidak baik dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Kutai yang dipakai masyarakat Kedang Lampong  dari segi dialek dan tata bahasa mempunyai ciri tersendiri dan sangat berbeda dengan bahasa Kutai yang lazim dijumpai sekarang ini. Mereka juga masih menggunakan cara pengobatan tradisional yang mengutamakan ramu-ramuan dari alam sekitar yang sampai sekarang ini masih dipertahankan


You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply