Pesut Mahakam Diambang Kepunahan

Keberadaan Pesut Mahakam (Orcaella Brevirostris) di perairan Mahakam, menjadi anugerah yang disia-siakan. Potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang bisa digali dengan menjadikan pesut sebagai ikon eko-wisata sekaligus sarana konservasi, ternyata hanya menjadi simbol belaka.

UMUMNYA pesut muncul di danau Jempang, danau Semayang, danau Melintang, dan sepanjang Sungai Mahakam dari Kota Bangun, Kutai Kartanegara hingga Sendawar, Kutai Barat. Potensi pariwisata ini ternyata belum dilirik pemerintah daerah setempat untuk menjadi pundi-pundi PAD.

Ironisnya, dolphin air tawar ini hanya sebatas menjadi ikon Kalimantan Timur yang dijumpai dalam bentuk patung dan aksesoris lain. Sayangnya, kehidupan mamalia air tawar ini tidak seindah kehidupan pematung dan pembuat aksesoris yang karyanya menghiasi beberapa kota dan desa di sepanjang Mahakam.

pesut mahakam

Pengamatan media ini saat melihat kemunculan pesut di Sungai Mahakam, di Desa Penyinggahan, Kutai Barat, bersama 36 peneliti dolphin air tawar dari 7 negara dan peneliti independen, umumnya mereka bergerak dalam kawanan kecil. Pesut dapat bertahan hidup di air Sungai Mahakam yang mengandung lumpur.

Assistant Director Environment and Endangered Aquatic Animal Conservation Unit, Department of Fisheries, Yangon, Myanmar, Mya Than Tun menjelaskan, dolphin air tawar merupakan ‘pakar’ dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan dengan menggunakan ultrasonik seperti kerabat dolphin di laut.

”Permasalahan muncul saat habitat mereka (pesut, Red.) semakin parah. Populasi hewan ini terus menyusut jika habitatnya terganggu, terutama karena kesibukan arus lalu-lintas di perairan. Tingginya erosi dan pendangkalan sungai juga menyebabkan populasi pesut semakin terancam,” ungkapnya.

Menyaksikan pesut secara langsung di sungai Mahakam saat ini sepertinya harus ”didampingi” dewi keberuntungan. Sebab saat menyusuri Sungai Mahakam selama dua hari, baru pada hari kedua, media ini bersama semua rombongan yang terbagi dalam 7 long boat baru bisa menyaksikan secara langsung meskipun hanya sekilas melalui punggung pesut yang muncul ke permukaan dan semburan air dari hidung mereka.

Parahnya lagi, dalam peta pariwisata yang dibuat Pemprov Kaltim dan leaflet yang dibuat Pemkab Kubar digambarkan jika di Sungai Mahakam dan tiga danau memiliki kehidupan kawanan pesut. Kenyatannya, menjumpai pesut tak semudah seperti menjumpai patung pesut di depan Kantor Gubernur Kaltim di Jl Gajah Mada.

Padahal, menurut sumber Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Kaltim, sejumlah penduduk Samarinda menyebutkan di tahun 1970-an, kawanan pesut masih sering dijumpai di depan Kantor Gubernur Kaltim.

Direktur Yayasan Konservasi RASI menyatakan, banyak masyarakat yang sebenarnya tertarik menyaksikan pesut secara langsung di perairan mahakam. Menyikapi hal itu, yayasannya membangun posko rakit (rumah di atas sungai Mahakam, Red.) di perairan Desa Muara Pahu, Kutai Barat.

”Harga yang ditawarkan pun bervariasi tergantung masyarakat yang mau melihat pesut secara langsung. Bahkan wisatawan dan peneliti dari luar negeri juga banyak yang mengunjungi posko yang sebenarnya berfungsi sebagai posko penyelamatan pesut ini,” ucapnya.

Sementara itu, Pemkab Kutai Barat yang diwakili Wakil Bupati Didik Effendi saat menemui Budiono dan beberapa perwakilan peneliti menyebutkan sangat tertarik mengembangkan konsep konservasi dan eko-wisata.

”Tetapi konsep tersebut masih harus dibahas lebih lanjut. Tentunya rekomendasi peneliti dari 7 negara akan jadi pertimbangan dan digabungkan dengan konsep eko-wisata yang disetujui Pemkab Kubar. Partisipasi pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota yang dilintasi Sungai Mahakam tentu sangat diperlukan,” ungkap Sumaryono, peneliti dari Universitas Mulawarman yang juga ikut dalam penelusuran jejak pesut di Sungai Mahakam.

Padatnya arus lalu lintas di sungai, diperkirakan dapat menyebabkan pesut terhantam baling-baling kapal. Apalagi selama 2 hari mengarungi Sungai Mahakam, ke-36 peneliti menyaksikan puluhan ponton bermuatan batu bara, rakit kayu, ponton alat berat dan kendaraan, kapal penumpang, serta kapal motor milik penduduk setempat. Belum lagi persaingan dengan nelayan lokal untuk mendapatkan ikan dan udang yang menjadi makanan mereka.

Brian Smith, peneliti asal Amerika Serikat menyebutkan, harus ada bukti konkret yang harus ditunjukkan pemerintah Indonesia dalam penyelamatan pesut. Apakah dengan pembatasan kecepatan kendaraan air di kawasan yang ditentukan ataukah dengan cara mengatasi kemerosotan daya dukung kehidupan binatang air tawar termasuk pesut. ”Kebijakan pemerintah sangat mendukung upaya penyelamatan ini,” ucapnya.

Hanya saja, keprihatinan terhadap nasib pesut saat ini tidak diimbangi dengan upaya penyelamatan. Pesut kini hanya menunggu waktu kepunahan. Mungkin generasi di masa mendatang hanya bisa mendengar cerita dan menyaksikan patung pesut yang kondisinya juga tidak terawat, sama seperti nasib pesut di habitat aslinya. (sumber kaltimpost)

Artikel Lainnya


You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Pesut Mahakam Diambang Kepunahan”

  1. T O M M Y says:

    asalamualaikum wagra kecamatan muara pahu, saya hanya memberi sedikit komentar kepunahan pesut, karena memang sudah waktunya, melestarikan hanyalah nyanyian belaka….jikalau zaman orde baru : banyak penebangan hutan liar, sekarang penambangan batu bara meraja lela, dan bahkan air sungai pun sekarang kadang kala gatal gatal untuk mandi,penyebabnya juga tidak ada kepastian, dan apakah karena limbah Industri,,,,,,,,, atau karena limbah sampah masyarakat yang dibuang ke sungai…..yang paling membuat saya bingung anak anak banyak menderita penyakit kulit, orang dewasa juga kadang kala terkena diare…..padahal sudah mengkonsumsi AIR PDAM, kelihatannya perlu keberanian untuk meneliti ???? kebersihan lingkungan sungai Kedang Pahu hingga Mahakam.
    salam hormat, Pencinta Alam
    Ketua Umum Markas Cabang LSM Laskar Merah Putih
    Kecamatan Muara Pahu

    AKHMAD SARTOMY

Leave a Reply