Wanadri Akan Lakukan Ekspedisi Tebing Tondoyan

firel | firman gunajaya | blogvrman | arenainformasi | masukberita | db-bugcheat

Karst di Kutai Timur mendapat perhatian dari Kelompok Pecinta Alam yang tergabung dalam Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri). Sebanyak 20 orang anggotanya akan melakukan ekspedisi tebing Tondoyan di kawasan Karst Mangkalihat.

“Direncanakan, Jumat (13/4) hari ini, tim akan dilepas secara resmi di Kantor Gubernur,” ujar Sekretaris Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kaltim, Slamet Kusbiantoro, Kamis (12/4).

Wanadri yang didirikan sejak 1964 memiliki visi dalam pembentukan karakter pemuda-pemudi Indonesia yang berjiwa patriot melalui aktifitas alam bebas sebagai medianya dengan empat pokok kegiatan utama, yaitu pendidikan di alam bebas, penelitian ilmiah, konservasi lingkungan dan pengabdian pada masyarakat. Pokok-pokok kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memupuk rasa cinta tanah air dan memberi manfaat yang luas bagi masyarakat luas.

Diharapkan, hasil ekspedisi akan dapat membuka khasanah kekayaan potensi kawasan karst di Kutai Timur, khususnya sebagai sarana petualangan pemanjatan tebing terjal.

Seperti diutarakan Kepala BLH Kaltim, H Riza Indra Riadi pada workshop penyusunan rencana aksi pengelolaan kawasan Karst Berau-Kutai Timur (22/3) lalu, kawasan Karst perlu dijaga kelestariannya, karena merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan dan kawasan yang sangat peka untuk segala bentuk perubahan lingkungan. Kawasan Karst didominasi oleh batu gamping (pelarutan batuan karbonat) yang memiliki ekosistem dinamis dan reservasi air yang sangat penting.

Sementara itu hasil ekspedisi biologi tahun 2004 yang dilakukan oleh Tim The Nature Conservancy (TNC) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan telah diidentifikasi 120 jenis burung, 90 spesies dan 2 spesies kelelawar, 200 spesies serangga dan antropoda dengan 1 spesies kecoa raksasa, 400 vegetasi dan 50 spesies ikan.

Tingkat keendemikan jenis Karst Sangkulirang-Mangkalihat sangat tinggi karena spesies-spesies tersebut sangat tergantung dari batuan kapur Karst untuk bertahan hidup.

Namun demikian, selain memiliki potensi yang begitu besar kawasan Karst Mangkalihat Sangkulirang menghadapi berbagai permasalahan yang mengancam kelestariannya diantaranya penebangan hutan yang intensif, pengambilan sarang burung walet yang berlebihan, terganggunya keseimbangan keanekaragaman hayati akibat keberadaan perkebunan skala besar dan aktifitas pertambangan yang merusak geomorfologi karst dan keanekaragaman hayati setempat. (ina/adv)


You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply