Menjamu Benua Menjelang Festival Erau

Erau adalah sebuah tradisi budaya Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun dengan pusat kegiatan di kota Tenggarong, Kutai Kartanegara. Erau berasal dari bahasa Kutai, eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.

Menjelang Festival Erau, 3-10 Juli mendatang, akan dilaksanakan upacara wajib yang disebut Menjamu Benua. Upacara ini dimaksudkan untuk memberi sesaji atau makanan kepada makhluk kayangan untuk berjaga-jaga dari marabahaya saat pelaksanaan Erau. Ritual dari kegiatan ini dipusatkan di tiga tempat. Ketiganya memiliki istilah masing-masing dan harus dilakukan secara berurutan.

menjamu benua
foto agri

Upacara pertama dilakukan di Kelurahan Mangkurawang. Tempat ini disebut sebagai kepala benua, yang dipercaya sebagai awal masuknya segala unsur ke Kota Raja. Tempat kedua adalah tengah benua. Berada tepat di seberang Museum Mulawarman, Jalan Diponegoro, Tenggarong. Serta yang terakhir adalah buntut benua yang terletak di kawasan Pal 5, tak jauh dari Jembatan Kartanegara.

“Sebagai makhluk Tuhan, tentunya kita harus percaya adanya makhluk gaib di sekitar kita yang merupakan ciptaan-Nya juga,” terang Awang Demang Natakrama, koordinator upacara sakral Kedaton Kutai Kartanegara Martadipura, kemarin. Pria yang sehari-hari bertugas di Dinas Budaya dan Pariwisata Kukar ini melanjutkan,  sesaji-sesaji yang dihidangkan, bertujuan untuk hadiah dan pernyataan permisi kepada penunggu wilayah untuk mengadakan rangkaian upacara adat. “Kalau kita mau melakukan sesuatu di tempat orang tentunya harus permisi kepada penunggunya,”  terangnya.

Dalam upacara Menjamu Benua ini, melibatkan 7 orang Dewa, 7 orang Belian, 5 Pangkon Bini, 5 Pangkon Laki, dan 5 orang pemandu musik Belian. “Dewa ialah sebutan untuk perempuan-perempuan yang menyajikan rangkaian sesaji saat upacara,” tuturnya. Dewa-dewa ini dipimpin oleh kepala dewa yang bertugas membaca doa-doa saat menyajikan makanan sesaji. “Tugas Belian adalah membaca mantra-mantra untuk roh-roh halus sepanjang prosesi upacara berjalan,” katanya.
Sedangkan para Belian adalah pemuka adat dari suku Dayak basap dari daerah Kota Bangun. Dalam Erau kali ini setidaknya ada 30 orang Belian diturunkan dari kampung mereka untuk membantu prosesi adat. “Mereka memang khusus dipanggil saat kerajaan akan melakukan acara-acara besar,” terangnya.

Sedangkan Pangkon, merupakan dayang-dayang istana. Dan pemandu musik Belian bertugas sebagai pemberi latar suara saat prosesi upacara Menjamu ini berangkat dari kedaton hingga kembali lagi. “Makanan yang disajikan pada upacara sakral ini sebanyak 41 macam,” paparnya. Ketiga tempat upacara tersebut harus mendapat jumlah dan ragam makanan yang sama. “Tidak ada bedanya satu sama lain,”  ungkapnya. Makanan-makanan tersebut, biasanya akan dijadikan rebutan oleh masyarakat sekitar yang datang menyaksikan setelah upacara menjamu usai.

menjamu benua
Foto Agri

Sebelum rombongan upacara pergi untuk melaksanakan tugas, terlebih dahulu arak-arakan digiring menuju ke kediaman Sultan Salehuddin II untuk meminta izin dan restu. “Setelah Sultan memberi permisi, barulah rombongan boleh melanjutkan tugasnya,”  terang Awang. Begitu juga saat upacara Menjamu Benua usai dilakukan. Sebelum kembali ke kedaton, rombongan yang diwakili ketua Belian dan kepala Dewa harus menemui Sultan untuk melapor.
“Setiap upacara Menjamu Benua dilaksanakan selalu ditemani hujan,”  ungkap Awang.

Menurutnya, ini adalah bukti jika komunikasi dengan kayangan telah terhubung. “Hujan adalah berkah, jadi jika saat upacara sakral ini turun hujan tentunya berkah akan bermunculan bersama banyaknya air yang tercurah dari langit,”  tuturnya. Percaya atau tidak namun sesaat setelah Sultan Salehuddin II memberikan izin pada rombongan pelaku upacara untuk melaksanakan tugasnya, hujan pun turun.
Hujan deras disertai angin bak ingin mengisyaratkan betapa khayangan mendengar seruan anak manusia yang sedang memanggilnya untuk berpesta. Di bawah naungan hujan, upacara sakral ini terus dilakukan berpindah dari satu tempat ketempat berikutnya. Seiring usainya ritual menjamu, dan rombongan kembali ke kediaman sang raja untuk melapor,  hujan pun usai juga. Berkaitan atau tidak inilah bukti kekuasaan Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya.

Artikel Lainnya


You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply