Pribahasa garam dilaut asam di gunung, ternyata tidak berlaku bagi warga Dayak Lundaya yang tinggal perbatasan Kaltim. Peribahasa itu mesti dirubah, karena di daerah mereka tinggal, yang merupakan daerah dataran tinggi. Yaitu di Pegunungan Paris, atau tepatnya di Desa Long Midang, Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan Kaltim, justru ditemukan sentra-sentra industri garam.
Padahal lokasi ini terletak sangat jauh dari laut. Mencapai 100 kilo meter. Yaitu 2400 diatas permukaan laut. Namun itulah penomena alam, garam yang biasanya dibuat dengan bahan dasar air laut, justru dibuat dari air sumur. DI Krayan banyak ditemukan sentra sentra industri garam gunung ini.

Garam ini juga memiliki keunikan, yaitu jika digunakan untuk memasak sayur mayor, warna sayur tetap hijau segar. Berbeda dengan garam laut, jika digunakan untuk memasak sayur, sayur berubah menjadin kuning kecoklatan. Bahkan sulit ditemukan warga Kecamatan Krayan yang menderita penyakit gondok. Tidak ada satupun warga Krayan yang terkena penyakit kekurangan yodium tersebut. Karena warga Krayan selalu mengkonsumsi garam gunung ini, yang diduga banyak mengandung yodium.
Keajaiban keberadaan garam Krayan ini sangat terkenal sampai ke Malaysia dan Brunei. Sebagian besar produksi garam Krayan ini dibeli oleh warga Brunei dan Malaysia yang datang langsung ke sentra pembuatannya di desa Long Midang, yang hanya berjarak 2 kilo meter dari wilayah Malaysia.
Harga garam krayan memang mahal. Satu bungkus garam kering yang dibungkus daun berharga Rp. 20.000 sedangkan yang basah ukuran 1 kilogram berharga Rp. 50.000. lebih mahal dari pada harga gula pasir.
Cara Pembuatan.
Cara pembuatan garam krayan memang berbeda dengan garam laut. Bahan dasar garam krayan diambil dari sumur sumur yang ada di pegunungan. Setelah itu air tersebut direbus satu malam dalam drum yang telah dibelah. Lama perebusan berkisar 24 jam lebih. Setelah air mongering, tertinggal butiran kristal yang merupakan garam basah. Garam basah ini kemudian dimasukan kedalam batang bamboo dengan ukuran panjang 30 cm. Kemudian batangan bamboo ini dibakar hingga bamboo pembungkus tadi habis terbakar api. Sisa pembakaran ini lah yang merupakan garam kering. Yang kemudian di bungkus dengan daun teremah (sejenis daun nipah) dan kemudian siap di jual.
Sementara garam basah lainya dijemur untuk mengurangi kadar air. Jika kadar airnya sudah berkurang, garam garam ini dimasukan kedalam kantong plastic dengan ukuran 1 kilogram.
Warga Malaysia dan Brunei lebih banyak yang menyukai garam-garam bakar yang telah dibungkus daun teremah. Karena keunikan dan kasiatnya itulah mereka datang setiap hari untuk membeli garam krayan. Bagi warga krayan, “ Peribahasa garam dilaut asam digunungpun mesti diganti.Yaitu garam di gunung, asam juga di gunung. (sumber suaraborneo.com)








February 3rd, 2011
wisata
Posted in
Tags: 

